ASSALAMU'ALAIKUM...................

Kamis, 07 Mei 2009

I’m Single & Very Happy

“Assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikumsalam.”
“Wa'alaikumsalam.”
“Wa'alaikumsalam.”
“Wa'alaikumsalam.”
Langkah sasa berhenti di ruang tamu. Jawaban salam yang didengar ada... 1... 2... 3... 4... Sasa merapat ke tembok ruang tamu. Jemarinya merayapi tembok seolah ada hantu bersembunyi di situ. Hantu Teplek? Hantu Nempel? Kenapa tiba-tiba rumahnya seperti lembah bergaung? Atau foto Opa yang sedang tertawa lebar dengan gigi ompong dimana-mana itu yang menjawab?
“Haloooo! Kamu jelek!” teriak Sasa, mencontek scene usil di televisi. Berharap jawaban, “kamu jugaaaaa...” terdengar.
Tapi ternyata,
“MIRASHA ZULKARNAEN!!”
---BUGH!---
Terkejut, jidad Sasa menghantam tembok.
“Jou!”
(Jou adalah jawaban sopan khas orang Ende bila dipanggil oleh orang yang lebih tua.)
Itu suara Bang Farits! Mata Sasa terbeliak. Kenapa tiba-tiba otaknya jadi dungu begini? Pastinya tiga orang yang menjawab salamnya tadi adalah Kak Ani, Kak Anung dan Bang Farits!
Benar saja. Di ruang keluarga mata Sasa menemukan sosok Mama dan tiga Kakaknya.
“Eh ada Bang Farits dan dua putri tua...” goda Sasa sambil nyengir lebar. Diciumnya tangan mereka satuper-satu.
“Igh. Biar tua tapi kita masih cantik!” protes Kak Anung, maniak kosmetik.
“Duduk,” ujar Bang Farits. Itu titah. Bukan permintaan.

Sasa duduk. Melihat ekspresi Mama, Sasa yakin sesuatu sedang terjadi. Antena Sasa menangkap adanya sinyal asing di udara. Sinyal itu seperti semprotan cuka dan saos. Apa yang kurang? Ayam gorengnya kali...?

“Well well well. Adikku sekarang suka jalan-jalan dengan DUDA. Hebat.”
Bang Farits mulai memulai ‘kata sambutan’. Sungguh tidak ramah. Dingin, datar, padang pasir. Terdengar seperti DO panjang.

“Maksud Abang?” tanya Sasa, pura-pura tidak tahu. Padahal waktu Bang Farits menyebut kata ‘duda’ dengan penekanan-berat, Sasa sudah tahu siapa yang dimaksud. Siapa lagi kalau bukan Bang Ilham? Duda tanpa anak yang akhir-akhir ini sering mengajaknya jalan?

Hei! Ende ini kecil. Jangankan tabrakan fuso, semut tabrakan di jalan Sudirman saja, orang-orang di pasar Wolowona bisa dengar! Padahal jaraknya bisa 5 kilometer. Oke. Mungkin agak hiperbola. Tapi memang begitu adanya. Ende gitu lho.

“Kenapa sih berteman sama duda?” tanya Kak Ani. Si jutek tralala di keluarga Zulkarnaen.

“Iya. Kenapa harus duda? Padahal yang masih lajang kan banyak!” imbuh Bang Farits.

“Hmmm. Mungkin duda itu tertarik sama wajah kau. Akhir-akhir ini sering pake bedak merek apa sih?” Kak Anung, seperti biasa, tidak memberi nilai tambah dalam interogasi keluarga.

“Jawab saja pertanyaan mereka, Sa. Kau berhak menjawab,” kata Mama. Bijak. Bersahaja. Makhluk yang paling netral dan bijaksana.

“Hhhhh.” Sasa mengumpulkan tenaga. “Bang Ilham itu hanya temanku. Kita berbisni...”

“Bisnis cinta?” pangkas Bang Farits.

“..ssssss... Bisa biarkan aku selesaikan kalimatku dulu? Aku bicara kayak orang kurang sekolah... kurang huruf!” protes Sasa.

“Oke.”

“Lanjut.”

“Ntar habis ini pinjem Cosmopolitanmu ya, Sa.”

“Bang Ilham itu hanya temanku. Kita berbisniS. BisniSSSSSS,” ulang Sasa.

“Cukup kok huruf S nya.” Kak Anung menahan senyum. Sementara dua Kakak Sasa yang lain menunggu. Penasaran. Tak sabar ingin mencabik.

“Kita sama-sama pengen buka butik. Butik khusus pakaian dari kain tenunan. Kebetulan kita sama-sama kurang modal, jadi ya... patungan. Makanya aku sering jalan bareng Bang Ilham. Hunting tempat, Penenun, bikin perbandingan dengan gallery tenun ikat lain di Ende... semua itu butuh waktu. Waktu untuk pergi bersama.” Sasa menanti tanggapan mereka.

“Apa tidak ada temanmu, single pastinya, yang juga punya niat buka butik... pakaian berbahan tenun ikat?” tanya Kak Ani.

“Bang Ilham kan SINGLE?” balas Sasa. Cara bicaranya mulai nge-gas.

“Single tapi DUDA!” hardik Kak Ani. Tak kalah nge-gas.

“Apa salahnya aku berteman dengan DU-DA?” tanya Sasa blo’on.

“Duda itu kayak JANDA. Berteman dengan mereka, kau pasti jadi sorotan. Kita tidak mau jadi disorot masyarakat gara-gara berteman dengan duda. Untuk alasan apa pun.” Bang Farits menatapnya. Tajam.

Sasa tahu, sebentar lagi kuliah tiga jam ala Kak Ani akan...

“Kau tau, Sa...”

Tuh... tuh... betul kan? Kak Ani memulai. Kak Anung mencubit lengan Mama, tidak tahan melihat ekspresi wajah Sasa. Sementara Bang Farits sepertinya tak sabar mendengar kuliah Kak Ani, seperti bocah menanti hujan membasuh letih mereka bermain... congklak? Kok congklak? Congklak tidak membuat bocah letih. Hmmm. Bermain ‘melempari jendela tetangga’ baru betul.

“...kuping aku ini udah capek dengar segala macam omongan orang soal kau. Berteman sama preman pasar, gaul sama anak band rock, nongkrong di kafe sampe jam sebelas malam, sekarang... kau ‘jalan’ sama duda.” Kak Ani membentuk tanda gestur dengan jarinya saat menyebut kata JALAN. Dan, Kak Ani melanjutkan, “umur kau sudah duapuluh delapan. Perempuan seumuran kau udah pada merit, bahkan punya anak! Bosan kita tanya, sekarang pacaran sama sapa? Karena sepertinya kau tidak suka pacaran! Atau kau... tidak suka pacaran, apalagi merit, sama laki-laki?”

“KAKAK!” kali ini Kak Anung yang bersuara. Kak Ani memang lebih tua dari Kak Anung. “Jangan tuduh adik kita LESBI! Dia kan HOMO?”

“Hempsfffttt.” Suara tawa tertahan keluar dari bibir Mama.

“Nung, ini serius,” cela Bang Farits. “Ma, plis deh.”

Sasa hanya diam. Sasa tahu, Kak Anung dan Mama tidak se’kejam’ Bang Farits dan Kak Ani. Tapi jelas Kak Anung menyela pada saat yang tidak tepat.

“...sekarang aku ingin kau,” lanjut Kak Ani sambil menunjuk hidung Sasa “untuk memacari duda itu. Dan... merit sama dia!”

Sasa dongo. “TIDAAAAAK! TIDAK MASUK AKAL! Hanya karena berteman sama Bang Ilham, aku dituntut untuk...? TIDAAAAAAAK!” Sasa protes keras.

“Kalo begitu... aku kasih kau waktu tiga hari untuk cari pacar. Kalo tidak, kau harus rela aku jodohkan dengan teman kantornya Bang Abi,” balas Kak Ani. Bang Abi; suami Kak Anung.

“Tapi, Kak?” Sasa tidak terima. “Ma? Kak Anung? Duuuuh....” Sasa tidak bisa memohon dukungan dari Bang Farits karena Kakak tertuanya itu pasti akan mendukung Kak Ani.

“Terlalu lama kita toleran sama kau. Sama tingkah kau yang aneh-aneh itu. Sekarang kau yang harus turuti omongan kita!”

“Kita? Kau saja kaleeee... aku sih tidak,” balas Kak Anung santai.

“Mama juga tidak ikut-ikutan,” kata Mama.

“Aku dukung Ani,” kata Bang Farits. “Dan aku harap Mama dan Anung bisa sedikit kondusif dengan keadaan ini.”

Sasa merasa dunianya hancur. Apa-apa’an ini? Kenapa harus jadi begini? Hanya karena seorang duda, hidupnya jadi kacau? Padahal hubungan Sasa dengan Bang Ilham hanya sebatas teman. Teman kerja. Teman usaha. Tidak lebih. Bang Ilham sendiri juga sudah punya calon istri baru. Kenapa Kak Ani harus repot? Bahkan meminta Sasa untuk pacaran sama Bang Ilham? It’s so PICIK! Sasa tidak terima!

***

14 Februari 2009 adalah deadline. Sasa harus bisa menunjukkan pada Bang Farits dan Kak Ani, siapa pacarnya. Kalau tidak, Sasa diberi dua pilihan. Pilihan pertama; menggebet Bang Ilham. Dan itu sangat tidak mungkin. Pilihan kedua; dijodohkan dengan temannya Bang Abi. Itu juga sangat tidak mungkin. Sasa tidak suka dijodohkan.

“Kenapa sih di Ende yang namanya jodoh-jodohan kental sekali?” ujar Sasa saat menyeret speaker active dari dalam kamar menuju ruang keluarga.

Hari ini, tepat tiga hari ultimatum Kak Ani, Sasa punya rencana.
Apa rencana Sasa?

Sasa menggelar pesta Valentine kecil-kecilan di rumah. Nanti malam Bang Farits, Kak Ani, Kak Anung, beserta istri-suami mereka akan datang. Pasti semua ponakannya juga ikut. Ponakan tertua, anak Bang Farits, namanya Sesil. Sesil sudah duduk di kelas tiga SMP. Anak Kak Ani kembar; Feri dan Deri. Sementara Kak Anung masih belum dikaruniai keturunan.

Ruang keluarga disulap sedemikian rupa sehingga terlihat lebih cantik. Sofa ruang tamu diseret pula ke ruang keluarga. Rupanya bukan hanya anggota keluarga Zulkarnaen yang diundang Sasa... Bibi Yati; pembantu, sibuk di dapur menyiapkan makanan. Mama mendukung usaha Sasa. Bahwa hidup Sasa tidak se-rusak yang disangka Bang Farits dan Kak Ani.

Sasa menyiapkan aneka cemilan dan minuman kaleng di meja, depan televisi 29”.

Pukul 19:00 tamu mulai berdatangan. Bang Farits sekeluarga, disusul Kak Ani dan Kak Anung. Mereka terpana melihat ruang keluarga dan bertanya-tanya; ada apa gerangan?

“Mau kenalin pacar kok pake pesta segala,” ejek Kak Ani.

Sasa membalas ejekan itu dengan senyum lebar. Apa yang ingin dipamerkan Sasa pada anggota keluarganya bukan sekadar manusia berjenis kelamin laki-laki.
Pukul 19:10, datang tamu berikutnya. Bang Ilham dan Intan (pacarnya). Mata Bang Farits terbeliak. Kak Ani ternganga. Di meja makan, Mama dan Kak Anung saling berbisik dan terkikik geli.

“Maaf, agak terlambat,” ujar Bang Ilham sambil memperkenalkan diri.

Tak lama, datang lagi teman-teman Sasa; dua preman pasar, anak-anak band Qurvos (Qurubege Voice – Ende), juga beberapa teman radio. Komplit.

“Eh? Kak Sinta!” jerit Sesil, penggemar setia radio Gomezone. Sinta Penyiar favorit Sesil dan dengan lantang Sesil berkata, “ini nih Penyiar favoritku, Pa,” pada Bang Farits. “Tante Sasa emang anak GAWUL deeeeeh.”

Bang Farits ingin pingsan.
Kak Ani ingin menjauh dari kerumunan ini.
Mereka merasa berada di negeri antah-berantah, di tengah orang-orang asing yang selama ini mereka hindari.

Pukul 19:30, Sasa berdiri di samping televisi. “Sil, tolong hidupkan DVD ma tivi donk,” pinta Sasa.

“Oke. Selamat malam semuaaaaa...”

“PAGIIIII...”

“Heheheh. Hari ini, Valentine. Aku tau ada temen-temen yang rela tidak keluar sama pacarnya, demi aku. Makasih ya. Juga untuk tiga Kakakku, Bang Farits, Kak Ani dan Kak Anung. Terspesial untuk Mama. Makasih ya, Ma. Udah ngedukung aku selama ini.”

Kak Ani mencibir.

“Baiklah. Tiga hari yang lalu aku dituntut untuk cari pacar sama... Kak Ani. Kakakku yang paling bawel dan jutek hehehehe. Hmmm. Aku tidak bisa cari pacar se-instant itu. Pacar, perasaan, cinta, bukan perkara mudah. Jadi maaf, malam ini aku tidak bisa menunjukkan siapa pacarku.
Tapi... malam ini aku pengen ngasih tau sesuatu yang harusnya baru boleh diumumkan minggu depan. Tapi... lagi... karena Bang Ilham adalah pria baik, jadi Bang Ilham membolehkan aku mengumumkan pada kalian semua yang udah hadir.
Malam ini, selain kita ngerayain Valentine... kita juga ngerayain... BUTIK GURIWA! Butik khas tenun ikat, hasil kolaborasi antara aku dan Bang Ilham.”

---PLOK PLOK PLOK---

Tepuk tangan terdengar riuh.

“Terima kasih. Hmmm. Sebelum kita menyerang meja makan... ada yang ingin aku tunjukin ke... Bang Farits dan Kak Ani. Bahwa hidupku baik-baik aja. Bahwa aku masih bisa ngebedain mana yang putih dan mana yang hitam. Bahwa, teman-temanku semua, yang malam ini hadir atau berhalangan hadir, adalah anugerah dari Tuhan. Aku bangga punya keluarga Zulkarnaen. Aku juga bangga punya banyak teman. Tidak pandang... siapa mereka, dari mana asal mereka, apa kerjaan mereka, Agamanya apa. Tidak.
Satu lagi, soal jodoh. Hmmm... semuanya biar Tuhan yang ngatur.”

Bang Farits menghela nafas panjang. Kak Ani tertunduk dalam. Kak Anung dan Mama berpelukan.

“So, apa nih yang mo ditunjukin ke kita? LAPER nih.” Sinta mengelus perut.

Sasa menjentik jari. “Sesil, MAINKAN!”

Kak Ani mengangkat wajah.

Di televisi muncul wajah Oppie Andaresta, dengan intro piano dan gitar. Kafe tenda, pinggir jalan, dengan latar sibuknya suatu jalan, terpampang di televisi. Speaker active membantu suasana ini terasa begitu dramatis.

Mereka bilang aku pemilih dan kesepian
Terlalu keras menjalani hidup
Beribu nasihat dan petuah yang diberikan
Berharap hidupku bahagia


Kak Anung berlari... entah bagaimana dan darimana (pastinya dari kotak mic milik almarhum Papa), Kak Anung berhasil mencolok dua mic... diserahkan satu mic itu pada Sasa.

“Ayo nyanyiiiiiii.........!!!!”

Aku baik-baik saja
Menikmati hidup yang aku punya
Hidupku sangat sempurna
I'm single and very happy
Mengejar mimpi-mimpi indah
Bebas lakukan yang aku suka
Berteman dengan siapa saja
I’m Single and very happy


Mereka bilang sudah saatnya karena usia
Untuk mencari sang kekasih hati
Tapi ku yakin akan datang pasangan jiwaku
Pada waktu dan cara yang indah

Waktu terus berjalan
Tak bisa kuhentikan
Kuinginkan yang terbaik untuk hidupku...


“AKU BAIK-BAIK SAJA MENIKMATI HIDUP YANG AKU PUNYAAAAA...” suara cempreng Kak Anung. “Ayo Bang Soni!!!!” Kak Anung memanggil suaminya.
Semua terbahak melihatnya. Suasana dramatis itu berubah jadi konyol gara-gara Kak Anung.
Sesil merampas mic di tangan Sasa. “I’m single and very happy... AHA’ AHA’ I’m single and very happy... AHA’ AHA’...”

“ULANG!” jerit Kak Anung.

New single coming from; salah seorang artis yang dulu bernaung di Pulau Biru Production (bersama Slank dan almarhum Imanez) itu lagi terdengar. Kali ini Mama bahkan berdiri dan bergoyang. Bang Ilham dan Intan tak mau kalah. Sinta apalagi. Dia menari-nari, menarikan tarian hujan. Sementara itu anak-anak Qurvos terbahak-bahak... mengoyang kaki, ikut irama. Ingin berdiri, ikut heboh, nanti ruang keluarga ini jadi sempit.

“Sambil MAKAAAAANNN!!!!”

Meja makan diserbu sementara Sesil terus mengulang Single Happy sampai teler.

Semua orang tersenyum puas.
Bang Farits dan Kak Ani termangu. Benarkah sikap mereka pada Sasa selama ini?

“Aku sering bilang dia pemilih, Bang,” kata Kak Ani “lagu itu menohok sekali yah?”

“Aku juga suka bilang... kita pengen dia bahagia. Tapi ternyata?” Bang Farits mengedik bahu.

“She’s single and very happy on that status,” sambung seseorang. Dia lah Bang Abi. “Bang Farits dan Ani, seharusnya belajar. Belajar untuk tidak memaksa kehendak pada siapapun. Jangan liat Sasa sebagai Adik kalian. Tapi liatlah dia sebagai seorang manusia yang punya hak. Hak untuk ngejalani hidupnya sendiri. Toh selama ini dia tidak menyeret kita ke kantor Polisi karena kasus yang pasti bikin malu keluarga Zulkarnaen. Iya kan? Sasa, dengan semua pergaulannya, tetap tau diri. Tau batas.”

Sasa mendekati Bang Farits dan Kak Ani. Bang Abi langsung menyingkir, memberi sedikit privacy pada mereka. Kak Anung ikut gabung. Volume speaker active mengecil. Bang Farits menyeret ketiga adik perempuannya ke beranda belakang.

“Sa, maaf ya,” ujar Bang Farits.

“Aku juga, Sa. Maafin ya.” Kak Ani tersenyum geli. Geli pada sikapnya selama ini pada si bungsu.

“Jaman berubah, Bang, Kak,” kata Kak Anung. “Di jaman kita dulu, umur duapuluh lima belom kawin aja... udah jadi buah bibir. Tapi sekarang tuh beda. Liat aja Cici Paramida. Umurnya udah tigapuluh delapan dan dia... MASIH CANTIK! Hidungnya difermak kayaknya? Duuuh... dia pake pelembab apa sih? Mereknya?”

“HAHAHAHAHAHAHA....”

“Dasar maniak kosmetik!”

“Hihihhihihih....” Sasa terkikik.

Dipeluknya ketiga Kakaknya itu dan berkata, “terima kasih udah jadi Kakak terbaik untuk aku. Aku tau Bang Farits dan Kak Ani bersikap begitu hmmm... because you’re my brother,” kata Sasa sambil mencubit pinggang Bang Farits “and you... you’re my sister,” katanya sambil mencium pipi Kak Ani.

Yea. Sasa; single lady and very happy.
How about you? You? You? And... you?

---DAS ENDE---



Notes:
Tiap kali saya denger satu lagu yang ‘klik’ langsung jadi cerpennya. Jadi ingat dulu gara-gara lagu Koq Gitu Sich dari Dewiq dan Indra Bekti, langsung bikin deh cerpennya dan menang pula *lirik Ilham & Dedyisn* malah dapet hadiah buku, asesoris dan voucher belajar menulis online hehehe.
Btw, I love Oppie Andaresta.
Waktu masih SMP, Oppie ngeluarin album pertama. Langsung gebet kasetnya. Sampe sekarang masih cinta Oppie. Pernah kirim surat (POS) ke Pulau Biru Production dan dapet mini-poster dari mereka tentang artis Pulau Biru Production.
Single Oppie yang satu ini: SINGLE HAPPY, saya anggap sebagai hadiah Valentine dari Oppie untuk sayah, salah seorang fans beratnya hakakaka. Because I love her so much. Gayanya, pakaiannya, cerdasnya, bibirnya, lirik-lirik lagunya, sampai dengan nada-nada indah dari lagu-lagunya. Single Happy, kalo kata orang Ende, JAO MAE KI BILANG, JAO KAAAAA hehehe.
Jumad malam tanggal 13, Bleki bilang kalo Oppie ini adalah Alanis Morissette-nya Indonesia. Tapi saya bilang, Oppie udah duluan muncul di tivi sebelom Alanis mendunia lewat Ironic atau Hand in My Pocket hehehe. Saya ‘kenal’ Oppie dari SMP, awal 90-an. Saya ‘kenal’ Alanis justru di akhir 90-an.
Kapan ya Indonesia bertaburan artis kayak Oppie? Jago bikin lagu, puisi, nyanyi dllnya. Jadi ngetop tanpa harus ‘jual tubuh’ sederhana dan bikin sayah gemas! Jadi inget Alanis dan Jewel.
Maybe gara-gara obsesi sama Oppie pula, saya jadi ‘Bidadari Badung’ dalam keluarga? Hahahahaha bidadari sih enggak, iblis badung baru betul!
Dah ah... enjoy ceritanya, komentar boleh, kritik jangan Bukannya nggak terima kritik, tapi sayah bikin cerpen ini cuma untuk berbagi. Maklum, udah lama nggak bikin cerpen. Terlalu tenggelam dalam naskah novel yang belom jadi hahahahaha
I’m single and very happy. Yak yuk yukkkkk...